INFO
  •  Welcome to Boven Digoel 
  •  BIMTEK WEBSITE PORTAL OPD 
  •  " NUP BAGEN NGGUP BAGENNEP, NGGUP BAGENNEP NUP BAGEN ( SAYA ADA KARENA KAMU ADA, KAMU ADA KARENA SAYA ADA)". 

Sejarah

SEJARAH BOVEN DIGOEL

No

Tahun

                                    Uraian

1.

 

 

Awal abad ke VIII

 

 

 Terlihat adanya hubungan antara Papua bagian barat dengan kerajaan Sriwijaya Pada periode ini, pulau Papua dikenal dengan nama Djanggi.

2.

Tahun 1526 – 1527

Bangsa Barat yang pertama kali datang ke Papua adalah Antonio d’Abreu dan Francesco Serrao dari Spanyol,Tetapi orang yang pertama kali menyebut nama dan penduduk Papua dalam laporannya adalah Antonio Pigafetta (pelaut Portugis) yang pernah menyinggahi Maluku. Sejak itulah nama Papua dikenal. Dalam catatannya, Pigafetta menyebutkan tentang kekerabatan antara orang-orang Halmahera dengan orang-orang yang tinggal di kawasan pantai Papua.

 

 

3.

24 Desember 1610

Van der Dussen mengirim surat kepada pimpinan VOC, bahwa perahu dari tiga kerajaan (Waigeo, Mishol, dan Weigamo) di Pulau Papua sering menyerang di pantai Seram, tempat mereka terus menerus merampas emas dan budak dalam jumlah yang tidak sedikit.

 

4.

Tahun 1814

Setelah tahun 1814, terjadi perubahan. Mulai saat itu otoritas Belanda, yang kemudian dikenal dengan Hindia Belanda, menguasai seluruh kawasan Hindia Timur, termasuk Papua. Periode ini dikenal dengan periode dimana banyak ekspedisi berdatangan dari luar negeri ke Papua untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan.

 

5.

Tahun 1846

Penetapan batas wilayah jajahan Belanda di Papua ketika A.L. Weddik ditugaskan oleh Gubernur Jenderal Belanda di Batavia untuk menetapkan batas-batas wilayah Maluku, termasuk Papua.

 

6.

Tahun 1898

Residens Ternate dibagi dalam delapan afdelingen, termasuk di dalamnya: Noord Nieuw Guinea, West Nieuw Guinea, dan Zuid Nieuw Guinea (dan meliputi: Kepulauan Raja Ampat). Pada tahun 1901, West Nieuw Guinea dipecah menjadi dua afdelingen, yaitu: (1) Zuid Nieuw Guinea, dan (2) West Nieuw Guinea

7.

12 February 1902

Sejak saat itu tiga afdeeling mengalami perubahan, yaitu: (1) Zuid Nieuw Guinea, di timur Kaap Steenboom, pada tahun 1901 dilepaskan dari Tidore dan digabung dengan wilayah yang berpemerintahan langsung

8.

Tahun 1907

Ekspedisi militer pertama dilakukan oleh bangsa Belanda terjadi ketika mereka berupaya memasuki sungai Digul menggunakan perahu Valk.

9.

Tahun 1909

Upaya yang sama dilakukan kembali dengan menggunakan perahu Zwaluw.

10.

Tahun 1902 -1913

Zuid Nieuw Guineamenjadi daerah mandiri, di bawah pemerintahan seorang asisten residen yang berkedudukan di Merauke

 

11.

Tahun 1912 – 1913

ekspedisi berikutnya , pemerintah Belanda mendirikan pos di Assike. Pos ini ada di tepi kiri sungai Digul, yang berjarak sekitar 355 km dari muaranya.

 

12.

Januari  1926

Pada bulan Januari 1926 ratusan orang Papua tiba dari daerah Boven Digoelke Muting di Onderafdeeling Merauke untuk meminta perlindungan terhadap penyerangan berulang kali oleh suku-suku yang suka berperang, diduga berasal dari sungai Mappi. Pada waktu-waktu lain bantuan pemerintah tetap diharapkan untuk mengatasi masalah yang sama. Daerah ini bisa dikuasai dari Tanah Merah, asalkan di sana orang memiliki kekuatan militer yang memadai, yang memungkinkan untuk menempatkan dan memerintahkan eksplorasi selama beberapa minggu setidaknya dengan dua brigade.

 

13.

10 Desember 1926

Dalam catatan Controleur I.B.B.F.H. Peters,29 Onderafdeeling Boven Digoel dibentuk dengan Staatsblad 10 Desember 1926 nomor 529, dan menjadi salah satu onderafdeeling tertua di New Guinea Belanda. Batas-batas wilayah pada saat pembentukan onderafdeeling ini adalah:

- Onderafdeeling Mappi pada bulan Mei 1952 (Keputusan Pemerintah tanggal 10 Mei 1952 nomor 86)

- Onderafdeeling Muju bulan Januari 1955 (Keputusan Pemerintah nomor 19 tanggal 12 Januari 1955)

Onderafdeeling Boven Digoel sekarang ini memiliki luas kira-kira 17 ribu km persegi, sementara j arak terakhir dari batas utara ke batas selatan mencapai 235 kilometer.

 

14.

10 Desember  1926

30Pelajari dalam Ina Mirawati, Inventaris Arsip Boven Digoel(Jakarta: Arsip Nasional R.I, 1990), hlm. i

31I.F.M. Chalid Salim, Limabelas Tahun Digul: Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea, Tempat Persemaian Kemerdekaan Indonesia, terjemahan Hazil Tanzil dan J. Taufik Salim (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hlm. 98.

Ekspedisi militer pertama dilakukan oleh bangsa Belanda terjadi pada tahun 1907, ketika mereka berupaya memasuki sungai Digul menggunakan perahu Valk. Pada tahun 1909, upaya yang sama dilakukan kembali dengan menggunakan perahu Zwaluw, dan ekspedisi berikutnya dilakukan pada tahun 1912 dan 1913.31 Setelah itu, pemerintah Belanda mendirikan pos di Assike. Pos ini ada di tepi kiri sungai Digul, yang berjarak sekitar 355 km dari muaranya.  wilayah Sungai Digul dipisahkan dari OnderafdeelingNieuwe Guinea menjadi sebuah pemerintahan setingkat onderafdeeling, dengan pusat pemerintahan di Tanah Merah33, dan di bawah Afdeeling Amboina. Jabatan pemerintahan tertinggi di Boven Digoel disebut Gezaghebber dan wel officier der landmacht met den titel van gezaghebber, nama pejabatnya adalah M.A. Monsjou (yang ditetapkan untuk mulai bertugas di tempat itu pada tanggal 11 Oktober 1927).34 Sebagai bestuursassistent adalah J.J.Z. Pirsouw (bertugas sejak 15 Juli 1927), dan sebagai Inlandsch ambtenaar met den rang en titel van wedana adalah Raden Sastranegara.35 M.A. Monsjou datang untuk menggantikan posisi Kapten Becking, sebagai penguasa Boven Digoel.36 Akhirnya, Boven Digoel memiliki pemerintahannya sendiri.

 

15.

10 Desember 1926

Wilayah Sungai Digul dipisahkan dari Onderafdeeling Nieuwe Guinea menjadi sebuah pemerintahan setingkat onderafdeeling, dengan pusat pemerintahan di Tanah Merah40, dan di bawah Afdeeling Amboina. Jabatan pemerintahan tertinggi di Boven Digoel disebut Gezaghebber dan wel officier der landmacht met den titel van gezaghebber, nama pejabatnya adalah M.A. Monsjou (yang ditetapkan untuk mulai bertugas di tempat itu pada tanggal 11 Oktober 1927).41 Sebagai bestuursassistent adalah J.J.Z. Pirsouw (bertugas sejak 15 Juli 1927), dan sebagai Inlandsch ambtenaar met den rang en titel van wedana adalah Raden Sastranegara.42 M.A. Monsjou datang untuk menggantikan posisi Kapten Becking, sebagai penguasa Boven Digoel.43 Akhirnya, Boven Digoel memiliki pemerintahannya sendiri.

 

 

16.

Tahun 1926 – 1927

Pemerintah mulai disibukkan dengan berbagai kritik dan penentangan terhadap kebijakan kolonialnya. Pada tahun 1926 dan awal tahun 1927, Hindia Belanda dikejutkan dengan pemberontakan kelompok komunis di daerah Banten dan daerah Sumatra Barat. Dampak dari peristiwa tersebut, pemerintah mulai keras dan tidak tanggung-tanggung, menyiapkan tempat khusus untuk mengasingkan orang-orang yang dinilai radikal. Awalnya, tempat itu memang diperuntukkan bagi orang-orang yang terlibat dalam pemberontakan tahun 1926- 1927, namun pada periode berikutnya kamp Boven Digoel menjadi tempat pengasingan para tokoh nasionalis Hindia Belanda.

 

17.

Tahun 1926 – 1927

Dasar hukum pemerintah kolonial mengasingkan para pemberontak ke Boven Digoel adalah hak istimewa gubenur jenderal. Hak istimewa itu dikenal dengan exorbitante rechten.85 Isi aturan ini adalah :

                                               Pasal 35

1. Kepada orang-orang, yang tidak dilahirkan di Hindia Belanda, yang dianggap berbahaya bagi ketertiban dan ketenangan umum, bisa dicabut hak tinggalnya disana oleh Gubernur Jenderal, dalam kesepakatan dengan Raad van Indie.

 

18.

September 1928

Struktur pemerintahan dimekarkan, yang terlihat dengan munculnya jabatan-jabatan baru. Jabatan baru itu adalah hulpgezaghebber44, bestuurassistent45, schakelofficer (sejak 1 Juli 1931)46, assistant wedana (sejak 4 November 1931)47, veldpolitie,48 dan di bawahnya ada pejabat inspecteur van politie 2e klaas.49 Secara berangsur-angsur pemerintahan di Boven Digoel menjadi layaknya lembaga birokrasi pemerintahan di daerah-daerah lain. Di kawasan itu memang dibedakan antara kawasan pemerintahan dan kawasan pengasingan.

 

19.

Tahun 1928

Di tepi Sungai Digul ada sebuah rumah sakit, wilayah militer, dan kantor het Hoofd van Plaatselijk Bestuur (HPB/kepala daerah). Letak rumah sakit dalam denah di atas berada di dalam batas tempat penahanan, sedangkan fasilitas pemerintahan dan militer, termasuk lapangan terbang, berada di luar area penahanan.97 Pemisahan fasilitas militer dan pemerintahan dengan fasilitas penahanan sudah tampak .

Di tingkat praktek, orang yang paling berperan melacak dan memproses orang-orang yang berpotensi dibuang ke Boven Digoel adalah residen dan kepala polisi, khususnya PID (Politieke Inlichtingen Dienst) setempat. Hampir 100% usulan residen disahkan gubernur jenderal.99

 

20.

September & november  Tahun 1928